Kamis, 12 Juni 2014

Sebelum Bertemu


Sebelum bertemu, kau adalah kartu pos bergambar "serigala berbulu tangkis" yang kutemui di beranda kosanku.

Sebelum bertemu, kau adalah orang asing yang hampir setiap malam mengusik rasa kantukku untuk sekadar berbagi cerita perihal rutinitas kau dan aku di ujung telepon.

Sebelum bertemu, kau adalah pagiku yang menyenangkan di ujung telepon.

Sebelum bertemu, kau tahu sudah menang. memenangkan hatiku. sebab aku merasa genap setiap kali kau bersetia menemaniku di ujung telepon.

Sebelum bertemu, aku jauh tersesat pada isi kepalamu dan tak menemukan pintu keluar. Isi kepalamu bercerita banyak padaku. Tentang kau yang melakukan pemberontakan-pemberontakan. Tentang kau yang menolak untuk percaya dan tunduk kepada pemerintah.
Tentang kau yang jatuh cinta pada kotamu yang berantakan. Tentang dunia seni dan lingkunganmu yang begitu berbeda denganku. 

Meskipun kerap kali, aku mencoba meraba pikiranmu tapi tak menemukan apa-apa. Atau aku memang bukan perempuan pintar. Atau kau memang hanya berbicara omong kosong. Ya, seperti yang kau katakan padaku. 

Sebelum bertemu, kau adalah selembar kertas yang dibungkus amplop putih yang kau pilih mengirimkannya via kantor pos. Ah ya! kau juga mengetik suratmu itu dengan mesin ketik. 

Kau pernah sekali bertanya, "Apa yang kau cari dari aku, Za?"
Dengan tegas, aku menjawab, "Nggak tahu. Aku senang kenal dengan kamu."

Apa yang sedang kita cari? 
Tidak ada. Aku dan kau sama-sama tahu, kita tak mencari apa dan mengejar apa. Aku dan kau percaya, tak ada yang harus dikejar dari hidup selain menikmatinya.

Hai, orang asing!
Terima kasih.
Kau sudah menggenapi aku. 

Rabu, 04 Desember 2013

Perihal Sebuah Temu dan Orang-Orang yang Sibuk dengan Gadget/Hape

Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sampai lupa bangun. Dasar, orang cerdas!

Seusai pertemuan itu, kepala saya dipenuhi pertanyaan ‘kenapa’. pertanyaan-pertanyaan perihal orang cerdas dan gadget-nya dalam satu meja untuk sebuah temu.

Pertemuan tak lagi menyenangkan saat kita sibuk dengan gadget/hape masing-masing. Saya tak habis pikir, orang-orang cerdas itu memilih untuk menggeluti pikirannya sendiri dan memainkan jemarinya pada layar hape, sementara orang dungu mengamati mereka dengan penuh cemas. Sebab ia kehilangan banyak waktu untuk orang-orang cerdas yang tak menghargai pertemuan.

Satu jam.. Dua jam.. Tiga jam.. Berlalu begitu saja.
Orang-orang cerdas masih sibuk dengan gadget/hape dan membekukan waktu untuk dirinya sendiri. Orang dungu semakin cemas dan sekali-dua kali melempar pandangan ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu semakin menua. Kopi yang entah gelas ke berapa telah tandas. Malam digerogoti rasa kantuk. Ah, tetapi orang cerdas, tak juga memalingkan wajahnya dari gadget/hape-nya, padahal temu masih berlangsung.

Saya bahkan tak mampu meraba pikiran mereka. Dasar, orang cerdas! Saya masih di bumi. Mungkin mereka telah sampai di langit? surga? neraka? atau tersesat di alam pikirannya sendiri? Sementara orang dungu tak punya sayap untuk mengejar mereka—orang-orang cerdas. Saya tak tahu dan tak mau sok tahu.

Pertemuan menjadi hambar, sebab kabarnya, orang-orang cerdas itu terjebak dalam pikirannya sendiri dan lupa membawa peta. Mereka lupa jalan pulang.

Walaupun saya tak banyak bicara dan terkesan suka berbicara seperlunya saja, tapi sebisa mungkin saya menghargai pertemuan dengan mematikan gadget/hape. Ayolah, meskipun tak ada bahan obrolan, mungkin kita bisa berbincang dalam diam. Lupakan gadget atau hape! Hey, orang cerdas!

Ah, semoga kita masih punya hati untuk menghargai setiap pertemuan dengan tidak melulu memainkan gadget/hape. Selamat malam!

*picture taken from tuan gugel. 

Selasa, 19 November 2013

Ingin Pulang

Baru saja kutuntaskan rindu yang menyesaki dada.
Suaramu yang hanya mampu kugapai diujung telepon genggam.
Konon, jika berbicara perihal rindu, maka ruang temu lah yang menjadi jawaban.
Sementara jarak terus memaki, tak kunjung menggenapi rindu pada temu, ibu.

Setiap pagi sepasang mataku menyaksikan rindu menggigil di sudut kamar.
Rindu ingin meminjam sepasang lenganmu tetapi jarak sudah lama mengutuk pertemuan kita.

Pada sore yang senja, seorang perempuan mendekap erat rindunya.
Rindunya bertambah besar, ibu.
Ia pernah berkata kepadaku:
"Biar kusimpan saja rindu di lemari pakaianku. Jika rindu tumbuh semakin besar, biar saja meledak. Aku tak mau lagi ditertawai jarak."
Aku tahu hati perempuan itu sedang dibanjiri hujan.
Sebab mataku basah.
Rindu tak kunjung menggenapkan temu kita, ibu.

Kini, hujan jatuh pada sepasang mataku menjadi sebuah pelarian.
Lihat ibu, jarak sedang menertawaiku.
Sebab rindu telah menjelma belati.
Lama-lama aku bisa mati.
Aku ingin pulang..
Ke rahim mu, ibu.

ditulis pada suatu sore yang senja.

Selasa, 30 Juli 2013

Semacam Monolog Dungu

"Hai. Halo. Aku masih tak pandai berbasa-basi. Bagaimana kabar mu? Bagaimana kabar kita?"

"Aku sudah di kotaku. Kapan kamu menyusul pulang? Sampaikan salamku sama senja di kotamu"

"Eh, ada film bagus di bioskop. Nonton yuk?"

"Aku menunggu di depan kosan ya. Kita kemana hari ini?"

"Pukul 2 pagi sampai di kosan karena ngobrol sama kamu. Aku dimarahi ibu kos-ku. Aku senang dan aku mencintaimu."

"Bisa nggak, kamu nggak usah jatuh cinta sama orang lain. Temani aku ngopi saja yuk?"

"Bisa nggak, kita ngobrol saja tanpa peduli kalau pada akhirnya kita jatuh cinta saat kamu sudah pacar? Sesederhana itu."

"Bisa nggak, kita bertemu sebagai sepasang orang asing (lagi) dan saling bertukar cerita banyak-banyak tanpa ada embel-embel apapun?"

*postingan ini terinspirasi dari blog post perempuansore yang berjudul Monolog.

Rabu, 03 Juli 2013

Konspirasi Semesta

Kau percaya konspirasi semesta?
Ia serupa segerombolan makhluk tak kasatmata yang mempertemukan manusia satu dan lainnya.
Hari ini kau patah hati. Lalu cinta yang baru datang menyergapmu tanpa peringatan..
Kota ini semakin bising. Hujan membasahi tubuhnya. Tetapi hiruk pikuk kendaraan bermotor yang berlalu lalang seperti mencekik tubuhku.
Bahkan pukul 1 malam, kota ini masih padat. Apa yang mereka kerjakan selarut ini? Apa mereka tak lagi butuh tidur?

Ini sudah menjadi hal klise bagi warga kota ini. Bekerja sejak matahari bangun dan pulang ke rumah saat subuh menjelang. Bagi warga kota ini, rumah hanya sebagai tempat persinggahan.
Ah, aku menyadari, sekarang pun aku masih berada di kubikel kantor dengan setumpuk kerjaan. Entah dimana lagi rumahku yang sesungguhnya. Pukul 7 pagi aku bergegas ke kantor. Sementara, pukul 5 pagi baru tiba lagi di rumah.

“Sesekali berliburlah. Aku tahu pikiranmu capek bekerja terus.” Kata seorang rekan kerja suatu hari saat
mendapatiku masih setia berjibaku dengan setumpuk kerjaan di atas meja kubikel. Waktu itu jarum jam
menunjuk di angka 12.  

Sesekali pandanganku terlempar ke arah jendela. Kubikelku kebetulan dekat dengan kaca besar, sehingga riuh kota dan warna-warna lampu kota dapat kusaksikan ketika jenuh dengan kerjaan. Dua tahun silam, perusahaan ayah bangkrut karena beberapa proyek yang tak terselesaikan. Sementara, aku sebagai anak sulung diwariskan untuk menghidupkan kembali perusahaan ayah. Butuh bertahun-tahun untuk bisa memberikan napas ke perusahaan yang sudah mati. Berbagai cara yang harus aku lakukan untuk menarik kembali simpati rekan kerja ayah untuk kembali bekerja sama. Kini, perusahaan perbankan yang kubangun dengan jerih payahku menjadi salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta.

Betapa beruntungnya orang-orang yang dapat melakukan kerjaan yang menyenangkan untuk dirinya. Dalam hati aku selalu membatin. Menjadi seorang banker tidak pernah menjadi impianku.

“Ini sudah gelas kopi kelima. Apa ibu tidak berniat untuk pulang saja? Hari sudah terlalu larut untuk perempuan muda seperti ibu.”

Dengan pikiran penat aku memandang Mas Mono—salah satu office boy yang sudah bertahun-tahun mengabdi di perusahaan ini. Aku tahu maksud dari dia berkata seperti itu, dia hanya ingin mengingatkanku bahwa dia juga butuh istirahat. Pun aku yang telah bekerja seharian penuh.
Sementara setiap harinya aku selalu menyuruh dia lembur, demi membuatkan bergelas-gelas kopi agar tidak suntuk menghadapi setumpuk kerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Aku tahu, di rumah, anak istrinya menunggu ia pulang. Tetapi, dia selalu segan ketika aku menyuruhnya untuk pulang lebih dulu.  

“Kau pulanglah. Sebentar lagi kerjaanku selesai dan segera pulang.”

***
Sesekali aku butuh liburan. Seolah terhipnotis dengan lontaran dari rekan kerja tempo hari yang lalu, aku bergegas mengepack beberapa lembar pakaian dan memutuskan membunuh waktu di Yogyakarta. Pukul 5 pagi aku menandaskan gelas kopi ke enam dan memesan taksi menuju bandara Soekarno-Hatta.
Untungnya masih ada flight pagi dan tanpa pikir panjang aku langsung memesan tiketnya. Bagi seseorang yang penat dengan pekerjaannya, nampaknya memang Yogyakarta cocok untuk ditempati berlabuh dan merefresh pikiran. Lagipula ada perasaan rindu ingin kembali menjejaki kota itu.
Bekas hujan deras semalam menyisakan warna-warni di langit kota. Mungkin serupa pelangi. 

“Pesawatmu take off pukul berapa, Ara? Akhirnya kamu mengikuti juga saran aku untuk liburan.”

Aku tersenyum malu mendapati pesan pendek dari seorang rekan kerja yang tempo hari mendesakku untuk berlibur.

Mungkin dia benar, tak ada salahnya hari kerja digunakan liburan. Lagipula masih ada sekertaris yang bisa menangani pekerjaan kantor selagi aku liburan.

"Pesawatku take off pukul 10 pagi." Balasku singkat melalui pesan pendek.

Aku menyadari hari masih terlalu dini sampai di bandara berkat jalanan yang masih lengang. Aku belum juga tidur sampai subuh menjelang, tetapi tak ada kantuk yang menyerang sepasang mataku. Kukira ini efek kafein yang tak pernah alpa kuseruput tiap hari. Langkah kakiku akhirnya memutuskan untuk menjejaki salah satu coffee shop yang letaknya di sekitar bandara dan kebetulan dekat dengan terminal keberangkatanku.
  
Espresso satu, ya. Saya duduk di sebelah sana.” Aku menunjuk meja di pojokan coffee shop ke pelayan kafenya. Aku sengaja memilih duduk di pojokan, karena menghindari obrolan-obrolan orang asing. Kepalaku sudah cukup mumet dengan kerjaan kantor. Selang beberapa menit Espresso yang kupesan sudah ada di mejaku.

Aku bahkan sudah lupa berapa gelas kopi yang tandas di tenggorokanku. Sepertinya memang hanya kafein yang bisa menyelamatkanku dari kantuk dan penat, sebelum aku ketiduran di meja dan ketinggalan pesawat.

Entah sudah berapa lama aku tak senekat ini meninggalkan pekerjaan untuk membahagiakan diriku sendiri. Pandanganku menyapu sekeliling dan mendapati sesosok lelaki muda dengan setelan jas hitam tengah terburu-buru memasuki ruang tunggu. Aku seperti bercermin, melihat wajahnya yang tampak kusut, sepertinya ia terlalu sibuk dengan kerjaan dan lupa menyetrikanya. Aku mengira-ngira dan mengikuti kemana lelaki itu duduk. Mungkin dia sedang jenuh dengan kerjaan dan ingin liburan, sepertiku. Ah, aku tak pandai membaca pikiran orang lain.
 
“Eh, kamu Ara, kan? Keara Putri?”

Sontak aku dikagetkan dengan suara lelaki yang sepertinya tidak asing di cuping telingaku. Ternyata sedari tadi aku hanya memainkan gelas kopi yang kupesan tanpa menyesapnya sedikitpun. 

“Aku duduk disini, ya. Meja yang lain udah penuh.”

Aku mengangguk sambil tersenyum, menandakan aku mengizinkan lelaki itu duduk di mejaku.

“Apa kabar, Ken? Penampilanmu nggak pernah berubah ya.” Aku lalu membuka percakapan untuk mencairkan suasana.

Lelaki yang memakai kemeja dan digulung sampai lengan, celana jeans belel, brewokan tipis di  sekitar dagu yang duduk di hadapanku ini adalah teman sekelas sewaktu duduk di bangku SMA. Bertahun-tahun lamanya kami tidak pernah bertemu semenjak hari kelulusan dan Ken memutuskan untuk kuliah di Australia.

“Baik. Masih sama Adam?”

“Kamu itu dari dulu nggak pernah bisa basa-basi. Ngomongnya langsung to the point.

“Maaf deh. Kamu udah putus ya?”

Aku memukul lengan lelaki itu dengan gemas. Salah satu ingatan yang tertanam di pikiranku adalah Ken yang tidak pernah pandai basa-basi. Sejak SMA, apapun yang ia ingin lontarkan, langsung saja termuntahkan dari mulutnya tanpa pernah disaring.

“Aku udah lama nggak sama Adam. Puas kamu?”

Ken tertawa lepas mendengar pernyataanku barusan. Giginya yang tersusun rapi dan sorot matanya yang membuat aku tenggelam disana. Ah, pikir apa aku ini.

“Kalau kamu, udah berapa mantanmu sekarang? Udah ratusan ya?,” Tanyaku dengan memicingkan mata.

Selain tak pandai basa-basi. Ken juga populer di SMA, dengan cap playboy. Baginya hidup ini bersenang-senang. Sekali putus, ia akan dengan cepat menemukan penggantinya. Berbeda dengan aku yang sering dianggapnya perempuan pemilih. Semasa SMA, yang Ken tahu pacarku hanya Adam. Itulah sebab ia tertawa lepas mendengar pernyataan kalau aku tak lagi sama Adam. Dan lelaki itu memang benar, hanya Adam yang menjadi pacar sejak SMA sampai duduk di bangku kuliah. Tetapi kemudian, aku dan Adam tak lagi saling menginginkan. Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti berjalan saling memunggungi. Aku tahu, Adam tak lagi mencintaiku. Dia memilih kebahagiaannya sendiri—memilih mencintai perempuan lain.

Aku mencintainya. Sebab itu aku membiarkan punggungnya menjauh, bersama kebahagiaannya..
“Kamu pasti kaget kalau aku bilang, aku tidak pernah pacaran selama di Australia.”

Are you kidding me, sir?”

“Kenapa kamu putus dengan Adam?”

Lelaki ini justru mengalihkan pembicaraan. Menodong dengan pertanyaan yang membuat suaraku tercekat di tenggorokan dalam selang beberapa detik.

“Simpel aja sih, emang udah jalannya aku dan Adam tidak bisa lagi berjalan beriringan. Eh, kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi”

“Mungkin kamu emang harusnya sama aku, ya.”

“Kamu lagi mabuk, kan ngomong kayak gitu barusan?”

“Cinta itu perkara dipilih dan memilih, begitukan katamu?”

Seorang lelaki seperti Ken bahkan masih menyimpan ingatan saat dia pernah bercerita banyak tentang kehidupan cintanya dengan banyak perempuan yang berakhir dengan begitu saja tanpa ada sedikit rasa rindu yang berbekas. Seenggaknya ketika putus dengan pacar, ada jejak kenangan yang masih melintas di pikiran sesekali. Tetapi bagi Ken, pacaran hanya untuk bersenang-senang. Sebab itu, sejak SMA aku ragu setiap kali ia berbicara bahwa ia mencintaiku. Lelaki ini yang sedang duduk di hadapanku selalu mengejekku sebagai perempuan pemilih.

“Keara, aku ke Jakarta untuk bertemu seseorang yang sering kuejek perempuan pemilih saat SMA dulu. Ini mungkin konspirasi semesta mempertemukan kita disini”

“Tumben, omongan kamu serius,” sindirku sinis

Kata orang, untuk menguji orang itu jujur atau tidak ketika berbicara, maka tataplah sepasang matanya. Bahkan tatapan lelaki ini menyiratkan bahwa ia memang serius mengatakannya.

Pandanganku jatuh ke jam tangan di tangan kiriku dan membelalakkan kedua bola mata menatap jarum jam berada di angka 11. Aku seolah tersihir dalam percakapan panjang bersama Ken sehingga tak mengacuhkan announcement last call dari pegawai bandara kepada penumpang untuk segera mempercepat langkah karena pesawat akan segera take off. Aku melengos tanpa tahu harus berbuat apa lagi. Ken langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan berbisik..

Kamu percaya kan sekarang, bahwa semesta bekerja untuk mempertemukan kita di sini. Aku mencintaimu, Keara.


*Cerpen ini dibuat untuk menyelesaikan tantangan dari kak @odetrahma dengan tiga kata kunci; pelangi, kopi, upil. Saya merasa cerpen ini seperti jahitan yang belum rapi. Mohon kritikannya kakak. ^^